Pro kontra imunisasi

Long time no seeee……… Akhirnya, nulis lagi, setelah sempet ngilang agak lama. Sebenernya dah lama… pengen nulis. Tapi adaaa…. aja halangannya. Jiah…

Tar, deh, ceritanya nyusul. Sekarang Bunda lagi pengen posting tentang yang ini dulu.

Sebenernya dah lama pengen nulis tentang imunisasi, tapi imunisasi IPD, bukan pro kontra imunisasi. Ini gara2nya baca status FBnya mb eva: @Trans7: Hati2 memberikan imunisasi kpd buah hati😦

*update banget emang mamanya zakki n syifa ini😀

Ternyata tadi sore di trans7 ada acara yang membahas tentang imunisasi, tapi lebih ke kontranya. Bunda gak nonton, sih.  Makanya penasaran…

Kontra yang mana, ya? Pikiran Bunda langsung melayang ke imunisasi MMR, merkuri, dan imunisasi lain yang di luar imunisasi wajib.

Jangan2 di milis sehat udah ada yang bahas tentang acara ini. Ternyata bener, threadnya udah panjang kali lebar kali tinggi. Inti yang Bunda tangkep, ibu2 (kayaknya ada bapak2 juga, si) yang melek imunisasi pengen protes ke acara yang dinilai tidak imbang dan bisa menyesatkan masyarakat itu.

Sayang gak nonton acaranya, jadi gak bisa komen😦 Jadi Bunda copas-in surat cintanya Mb Pamelia (member milis sehat) yang ngewakilin member lain buat dimuat di surat pembaca kompas.

—————————————————————————————————————————————————

Dengan hormat,

Pada hari Minggu, 31 Oktober 2010 di acara Redaksi Investigasi Trans7 terdapat liputan mengenai “bahaya tersembunyi vaksinasi”, yang diantaranya menampilkan kesaksian pihak-pihak yang ‘dirugikan’ setelah mendapatkan vaksinasi. Selain itu juga ada pendapat narasumber dokter yang menyatakan bahwa “Memang sebaiknya tidak perlu memperoleh vaksinasi di luar 5 jenis yang diwajibkan Pemerintah” serta pernyataan dokter IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) bahwa “merkuri dapat berbahaya” tanpa menyebutkan secara spesifik merkuri jenis apa dan yang terdapat di mana. Selain itu terdapat penekanan pada ‘efek samping’ imunisasi yang bisa berujung pada kematian.

Melalui surat ini saya mewakili para orang tua dan konsumen kesehatan yang peduli hendak menyatakan keberatan pada berita singkat tersebut karena dibuat secara tidak berimbang serta tidak didasarkan pada penelitian ilmiah yang sahih dan netral, sehingga dapat membentuk opini publik yang salah

Berdasarkan publikasi resmi WHO mengenai kandungan merkuri dalam vaksin sebagaimana tertera dalam http://www.who.int/vaccine_safety/topics/thiomersal/statement/en/ dijelaskan bahwa Thiomersal yang digunakan sebagai bahan pengawet vaksin mengandung ethil-merkuri dan bukan methil merkuri yang membahayakan. Selain itu rumor yang mengatakan bahwa merkuri membahayakan telah dibuat tanpa menggunakan sampel yang cukup dan dengan demikian pernyataan tersebut adalah tidak sahih.

Sementara publikasi resmi IDAI mengenai imunisasi sebagaimana tercantum dalam http://www.idai.or.id/pendapat.asp adalah antara lain sebagai berikut “Vaksin yang beredar di Indonesia sudah tentu setelah mendapat pengkajian ilmiah ulang yang mendalam mencakup uji keamanan dan manfaat dari Pemerintah dalam hal ini Badan POM dan Departemen Kesehatan”.

Lima vaksin yang diwajibkan pemerintah adalah vaksin dengan subsidi, sementara vaksin lain  tidak diwajibkan bukannya karena kurang mendesak, tapi semata-mata karena tidak disubsidi pemerintah.

Mengenai efek samping vaksin atau dikenal dengan nama KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), berikut adalah penjelasan resmi IDAI sebagaimana terdapat pada http://www.idai.or.id/imunisasi/artikel.asp?q=199041315291 “setelah imunisasi dapat timbul reaksi lokal di tempat penyuntikan  atau reaksi umum berupa keluhan dan gejala tertentu, tergantung pada jenis vaksinnya. Reaksi tersebut umumnya ringan, mudah diatasi oleh orangtua atau pengasuh , dan akan hilang dalam 1 – 2 hari. Di tempat suntikan kadang-kadang timbul kemerahan, pembekakan, gatal, nyeri selama 1 sampai 2 hari. Kompres hangat dapat mengurangi keadaan tersebut. Kadang-kadang teraba benjolan kecil yang agak keras selama beberapa minggu atau lebih, tetapi umumnya tidak perlu dilakukan tindakan apapun”

Kejadian bahwa seseorang mengalami penolakan atas vaksin yang didapatnya amatlah jarang dan tidak bisa dijadikan tolok ukur pelarangan vaksinasi

Pemberian vaksinasi juga sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah yang masih berlaku sampai saat ini.

Kami harap Trans7 dapat melakukan klarifikasi atas berita tersebut karena dengan tidak mendapatkan imunisasi akan membuat anak-anak Indonesia terpapar penyakit berbahaya serta menimbulkan wabah penyakit yang seharusnya dapat dihindari dengan memperoleh vaksinasi.

Demikian surat ini. Atas perhatiannya, kami mengucapkan terimakasih

Atas nama orang tua dan konsumen kesehatan yang peduli,

Pamelia Yulianto, SH, M.Law

—————————————————————————————————————————————————-

Juga copas emailnya Bapk Firman yang nonton acara tersebut

—————————————————————————————————————————————————-

Salut buat emak2 yang ada disini. Saya mendukung penuh respon yang dilakukan oleh ibu-ibu yang ada di milis ini. Saya juga tadi menyaksikan acara trans7 tersebut. Jelas sekali banyak “pengaburan” yang dilakukan oleh pihak tv tersebut.

keluarga pertama yang “sepertinya” menderita polio, itu kan karena mereka tidak diimunisasi hanya satu anaknya yang paling kecil yang diimunisai. subjek kedua anak 12 th, lumpuh setelah imunisasi (dan sepertinya “diarahkan” ke vaksin polio) emangnya ada vaksin polio umur segitu? kemudian kutipan dari Prof.Dr. Sri Rejeki Sp.A(K) dari IDAI yang seolah-olah mendukung argumen mereka. padahal hanya diambil kutipan saja. Saya pernah mengikuti seminar Prof.Dr. Sri Rejeki, Sp.A(K) beliau begitu peduli dengan kesehatan anak, mana mungkin beliau menjelek2an imunisasi. Benar-benar parah..

kehabisan bahan demi mengejar rating

Saya mendukung usahanya buk..

Regards, -Firman-

—————————————————————————————————————————————————

Keputusan imunisasi untuk anak sepenuhnya ada di tangan orangtua, karena itu, kumpulkanlah informasi sebanyak2nya dari sumber yang dapat dipercaya, sebelum memutuskan susuatu untuk masa depan anak kita.

Mudah2an kita juga lebih bijak dalam menelaah acara2 di TV yang kadang “terkesan” hanya mengejar rating.

*Haduuuh, jadi miris inget anak2 sekarang kalo nyanyi di TV, lagunya orang dewasa kaya “Menangis semalam”. Gak ada lagi lagu2 “Libur Telah Tiba”nya Tasya, Trio Kwek2, dll

Tentang hermioneangel

A housewife, a mother, a daughter, and a sister that is still learning to do her best in every role that she plays
Pos ini dipublikasikan di kesehatan bayi dan anak dan tag . Tandai permalink.

10 Balasan ke Pro kontra imunisasi

  1. ncies berkata:

    hiii hunny…sebagai ortu memang harus “bijak dan cerdas…”
    pas anya umur 15 bulan, aku ngasih vaksin MMR ke dia, udah ga pake ragu dan takut lagi…

    ini pernah kutulis, eh “copas” juga tentang MMR, semua memang kembali lagi ke ortu masing2, dan ga lupa lihat perilaku anak sehingga waspada awal jika memang ada kelainan, jadi jangan terus mengkambinghitamkan vaksin…

    http://nciesworlds.blogspot.com/2010/01/imunisasi-mmr-mump-gondongan-measles.html

    pas banget : Ini juga habis telpon markas sehat buat daftar,tar sore anya mau imunisasi lagi tante….ulangan DPT sm ngasih varisela…dua bulan lalu sudah janjian🙂

  2. hermioneangel berkata:

    Iya, bunny… masih berusaha buat jadi ortu yang bijak, nih😀
    Daffa tar imunisasi campak akhir bulan ini.
    Salam sayang buat Nyanya, yaa

  3. ash berkata:

    sy juga lg bingung,,,anak sya hampir 2 bulan blm sya imunisasi BCG…coz bnyak info yg membuat sy jd takut untuk memberikan imunisasi pada anak sy…

  4. Faris berkata:

    Setiap permasalahan pasti ada pro dan kontra. Tidak perlu takut imunisasi. Jauh lebih banyak manfaatnya. Bila banyak info yang kontra, coba untuk selektif mencari sumber informasinya. Gunakan sumber informasi yang terpercaya, sumber informasi yang mengutamakan laporan ilmiah.

  5. Evi Shofianti berkata:

    klo boleh saya kasih masukan dari pengalaman saya, anak pertama saya diimunisasi sampe 1 thn dan anak ke dua ga diimunisasi.. tp klo boleh saya bandingkan.. daya tahan anak saya yg kedua lebih baik daripada anak pertama, anak pertama sering sakit.. sudah 3 tahun ini saya tidak pernah ke dokter, klo anak sakit saya lebih nyaman klo anak dikasih madu atau sari kurma, klo batuk ada madu batuk.. sudah ngeri klo pake obat dokter, melihat ada banyak teman yang malah nambah penyakitnya klo pake obat kimia.. malah ada yg laju darahnya sangat lambat karena banyaknya zat kimia dalam darahnya karena dari kecil sering sekali minum obat kimia.. terus ngefek ke ginjal n sakit lainnya.. klo menurut saya selama bisa dtangani tanpa bahan kimia, kenapa ambil resiko?

  6. Sri Astuti berkata:

    Sekedar sharing aja..sy prihatin ttg isu menolak imunisasi yg tdk didasari data penelitian yg sahih/valid.Selama blm ada pernyataan resmi dari institusi kesehatan ttg bahaya imunisasi,sy tdk berani ambil resiko utk tdk memberikan imunisasi pd anak kami. Anak pertama (5,5th),kami berikan imunisasi lengkap..tdk pernah terlewat bahkan utk boosternya. Alhamdulillah,sampai saat ini,jaraaangg sekali sakit (ke DSA pun hanya utk imunisasi)..krn itu utk anak kedua (3bln),kami perlakukan sama (berniat tetap memberikan imun lengkap). Memang imunisasi tdk menjamin anak tdk akan terpapar penyakit terkait,tp setidaknya dpt mengurangi tingkat keparahannya..InsyaAllah niat baik kami demi kesehatan anak,mendapat hasil yg baik jg (Amin..)🙂

  7. anr berkata:

    Saya juga lagi bingung bgt ttg imunisasi, soalnya pro kontra gitu, tapi pertanyaan dari yg kontra yg blm terjawab sama yg pro yaitu ttg bahan untuk membuat vaksin tersebut.. Apakah benar salah satu vaksin itu dibuat dari daging babi. Alhamdulillah saya muslim, dan setahu saya memakan daging babi itu haram hukumnya..
    Soalnya ada pakar yg bilang klo kita memakan daging babi itu bisa menurunkan sifat dan wataknya.. Tolong di share kebenarannya..

    Regards AnR

  8. novi berkata:

    Saya jg msh dilema masalah vaksinasi untuk anak-anak yg harus vaksinasi ulang, Setelah bergabung dan membaca artikel di Facebook : TANYA ASI – HZ Lactation Center. Coba deh baca artikel-artikelnya..

  9. hermioneangel berkata:

    kayanya banyak yang ngesearch tentang imunisasi, akhir2 ini, sejak pro kontra imunisasi makin marak. Padahal tulisan ini dibuat lebih dari setaun yang lalu, lo… N sekarang saya juga lagi mengalami kekhawatiran yang sama dengan banyak orang tua lain, setelah membaca tentang zat kimia tambahan pada vaksin u pengawetnya, seperti mercury, dll. ato bahan pembuat vaksinnya…😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s